Apa jadinya bila Indonesia tetap terpecah sebagai Republik Indonesia Serikat?
Mungkin kita tak pernah mengenal NKRI seperti sekarang.
Di situlah peran Mohammad Natsir begitu menentukan. Melalui Mosi Integral Natsir (1950), ia menyatukan kembali Indonesia menjadi negara kesatuan. Satu langkah berani yang membuat kita bisa menyebut diri ini: bangsa Indonesia.
Namun, Natsir bukan hanya politisi. Sejak muda, ia adalah pendidik. Pernah mengajar tanpa gaji, demi keyakinan bahwa mencerdaskan generasi lebih mulia daripada mengejar kenyamanan. Baginya, Islam dan ilmu pengetahuan adalah sahabat, bukan lawan.
Sebagai Ketua Partai Masyumi, ia memimpin umat dengan visi persatuan. Ia bukan tokoh eksklusif. Bahkan dengan lawan politik keras seperti D.N. Aidit (PKI), Natsir masih bisa duduk bersama, bercakap, bahkan tertawa di kantin DPR.
Di panggung internasional, Natsir adalah jembatan Indonesia dengan dunia Islam. Ia memperjuangkan Palestina, aktif di Liga Muslim Dunia, dan membuat nama Indonesia dihormati di Timur Tengah.
Pemikirannya tertulis abadi dalam karya seperti Capita Selecta dan Mempersatukan Umat. Ia menunjukkan bahwa Islam, modernitas, dan kebangsaan Indonesia bisa berjalan seiring.
Natsir pernah dipenjara karena kritis pada penguasa. Tapi justru di sanalah martabatnya berdiri tegak. Ia lebih memilih jadi tokoh moral bangsa daripada sekadar pejabat.
Hari ini, kita masih bisa belajar dari warisan Natsir:
-
Indonesia yang utuh.
-
Islam yang inklusif.
-
Politik yang dijalani dengan integritas.
Dari jas bertambal hingga Mosi Integral, dari ruang kelas kecil hingga panggung dunia—Mohammad Natsir membuktikan bahwa pemimpin sejati adalah ia yang hidup sederhana, berpikir besar, dan bekerja tulus untuk bangsanya.
Iklan
sponsor
