Sepulang sekolah, suasana di depan gerbang sekolah ramai dengan anak-anak yang menunggu dijemput oleh orang tua mereka. Sebagian anak duduk di ruang tunggu, tempat yang biasa digunakan untuk menunggu jika hujan atau cuaca sedang tidak bersahabat. Di antara kerumunan anak-anak itu, terlihat seorang anak laki-laki yang tampak berbeda dari yang lain. Ia menggunakan sandal jepit, sementara teman-temannya memakai sepatu. Bajunya basah dan sedikit kotor, membuatnya terlihat tidak rapi seperti yang lain.
Anak itu bernama Arman. Sepatunya basah karena ia terpeleset di lapangan sekolah yang becek setelah hujan deras mengguyur area sekolah tadi pagi. Tanpa pilihan lain, ia memasukkan sepatu basah itu ke dalam tasnya dan menggantinya dengan sandal jepit yang ia bawa sebagai cadangan. Meski bajunya kotor dan basah, Arman tetap tenang. Ia sudah terbiasa mandiri sejak kecil, didikan ibunya yang selalu mengajarkannya untuk tidak bergantung pada orang lain.
Saat Arman masuk ke ruang tunggu, ia mencari tempat duduk yang kosong. Namun, begitu ia duduk, anak-anak di sekitarnya perlahan menjauh. Beberapa bahkan memandangnya dengan tatapan aneh, seolah-olah mereka tidak ingin dekat dengannya. Arman mencoba tidak memedulikan hal itu, tapi dalam hatinya, ia merasa sedih. Ia tahu bahwa penampilannya yang basah dan kotor mungkin membuat orang lain enggan mendekat. Tapi, ia juga tahu bahwa ini bukanlah kesalahannya.
Tak ada satu pun teman yang mendekati Arman saat itu. Mereka sibuk dengan percakapan sendiri atau menunggu orang tua mereka datang. Arman hanya duduk diam, menatap ke luar jendela, menunggu ayahnya menjemput. Hampir 45 menit berlalu, dan satu per satu anak-anak dijemput oleh orang tua mereka. Kebanyakan dari mereka dijemput menggunakan motor, karena cuaca yang mendung dan tampak akan hujan lagi.
Tiba-tiba, sebuah mobil berwarna hitam terlihat mendekati area parkir sekolah. Mobil itu cukup bagus, dan semua mata anak-anak yang masih menunggu tertuju ke arahnya. Arman tersenyum kecil saat melihat ayahnya turun dari mobil itu. Ayahnya mengenakan kemeja rapi dan langsung menghampiri Arman. "Maaf terlambat, Nak. Ayah ada meeting tadi," kata ayahnya sambil mengusap kepala Arman.
Arman hanya mengangguk dan tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti ayahnya ke mobil. Saat mereka berjalan, beberapa anak yang masih menunggu memandangi mereka dengan tatapan heran. Mungkin mereka tidak menyangka bahwa anak yang bajunya basah dan kotor itu dijemput dengan mobil yang cukup mewah. Tapi, Arman tidak peduli. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada teman-temannya sebelum masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, ayahnya bertanya, "Kenapa bajumu basah dan kotor, Arman?" Arman menjawab dengan santai, "Tadi terpeleset di lapangan, Yah. Habis hujan, jadi becek." Ayahnya hanya tersenyum dan berkata, "Lain kali hati-hati, ya."
Sepanjang perjalanan pulang, Arman memandang keluar jendela. Ia tidak merasa sedih atau marah karena teman-temannya menjauh darinya tadi. Justru, ia merasa bangga karena bisa tetap tersenyum dan tabah menghadapi situasi itu. Ia tahu bahwa penampilan bukanlah segalanya, dan ia tidak perlu merasa rendah diri hanya karena bajunya basah atau karena ia memakai sandal jepit.
Sesampainya di rumah, Arman langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya. Ibunya yang sedang menyiapkan makan siang bertanya, "Kenapa bajumu basah, Nak?" Arman menceritakan kejadian tadi dengan santai, dan ibunya hanya tersenyum. "Kamu anak yang kuat, Arman. Ibu bangga padamu," kata ibunya sambil mengelus kepala Arman.
Malam itu, sebelum tidur, Arman merenungkan kejadian hari ini. Ia belajar bahwa ketabahan dan sikap positif bisa mengatasi segala situasi. Ia juga belajar untuk tidak menilai orang dari penampilan luar, karena setiap orang memiliki cerita dan alasan di balik apa yang mereka alami.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan dengan kisah nyata, itu hanyalah kebetulan semata. Namun, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya. Setiap orang memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri, dan ketabahan adalah kunci untuk menghadapi segala tantangan dalam hidup.
Selesai.
Iklan
sponsor
💬 Kolom Komentar
💬 Komentar | Tanya
Memuat komentar...
